Istiqomah
13.01 |
Istiqomah ,,,???
Apaan sih ,,,???
Belinya di mana ,,,???
Harganya berapaan ,,,???
Terus cara pemakaiannya bagaimana ,,,???
upzz,,, ane yakin gak ada yang tanya beginian,
(lho,,,,???)
Iyalah , yg baca blog ini kan orang-orang cerdas ,
( terus kalo cerdas kenapa mesti baca ini lagi ,,,???)
Itulah yang dinamakan saling mengingatkan , kita refleksikan firmanNya dalam surat Al-Asr ,
di dalam surat itu Allah berfirman bahwa semua manusia itu merugi kecuali , orang-orang beriman , yang beramal sholeh dan yang “saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran” , ingat ya di situ ada kata “saling” , dalam artian ada hubungan timbal balik .
Apaan sih ,,,???
Belinya di mana ,,,???
Harganya berapaan ,,,???
Terus cara pemakaiannya bagaimana ,,,???
upzz,,, ane yakin gak ada yang tanya beginian,
(lho,,,,???)
Iyalah , yg baca blog ini kan orang-orang cerdas ,
( terus kalo cerdas kenapa mesti baca ini lagi ,,,???)
Itulah yang dinamakan saling mengingatkan , kita refleksikan firmanNya dalam surat Al-Asr ,
di dalam surat itu Allah berfirman bahwa semua manusia itu merugi kecuali , orang-orang beriman , yang beramal sholeh dan yang “saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran” , ingat ya di situ ada kata “saling” , dalam artian ada hubungan timbal balik .
Istiqomah
bisa kita artikan teguh hati , atau konsisten , sikap ini sangat kita butuhkan
dalam keseharian kita, tentunya istiqomah dalam kebaikan , dan kalo berbicara
masalah ini tentulah menyangkut persoalan hati , karena istiqomah atau tidaknya
kita dalam keseharian itu tergantung hati kita masing-masing .
Kita tahu bahwa hati itu memiliki tingkatan , disana ada
qolbun salim ( hati yang sehat ) qolbun marid ( hati yang sakit ) dan qolbun
mayyit ( hati yang mati ) .
Yang pertama
adalah qolbun salim ( hati yang sehat )
hati yang sehat adalah hati yang apabila di tawarkan kepadanya suatu kebatilan dan berbagai macam kemudhorotan dengan serta merta dan penuh kesadaran dia akan menolak , menghindarinya dan diapun akan membenci perbuatan-perbuatan tersebut , bahkan tidak terdetik sedikitpun pada hatinya kecondongan pada hal-hal itu , pribadi-pribadi yang memiliki sifat ini dapat kita sebut mereka sebagai “nafsul muthmainnah”.
hati yang sehat adalah hati yang apabila di tawarkan kepadanya suatu kebatilan dan berbagai macam kemudhorotan dengan serta merta dan penuh kesadaran dia akan menolak , menghindarinya dan diapun akan membenci perbuatan-perbuatan tersebut , bahkan tidak terdetik sedikitpun pada hatinya kecondongan pada hal-hal itu , pribadi-pribadi yang memiliki sifat ini dapat kita sebut mereka sebagai “nafsul muthmainnah”.
Selanjutnya
adalah qolbun marid ( hati yang sakit )
hati yang sakit adalah hati yang lebih condong pada keburukan yang di tawarkan kepadanya , kecondonganya pada keburukan lebih banyak jika di bandingkan kecondonganya pada hal-hal yang bersifat baik , sebenarnya dia tahu bahwa yang dia lakukan itu salah tetapi kecondonganya untuk melakukan kesalahan itu lebih besar dari pada kecondonganya untuk menghindari hal-hal tersebut , terkadang penyakit pada jiwa seseorang dapat bertambah parah dan sang pemilik hati tidak menyadarinya sebab dirinya berpaling dari hal-hal yang menyebabkan hati sehat, dan yang namanya sakit tentu dapat sembuh selama ada pada diri mereka keinginan untuk sembuh, pribadi seperti ini dapat kita sebut “nafsullawwamah”.
hati yang sakit adalah hati yang lebih condong pada keburukan yang di tawarkan kepadanya , kecondonganya pada keburukan lebih banyak jika di bandingkan kecondonganya pada hal-hal yang bersifat baik , sebenarnya dia tahu bahwa yang dia lakukan itu salah tetapi kecondonganya untuk melakukan kesalahan itu lebih besar dari pada kecondonganya untuk menghindari hal-hal tersebut , terkadang penyakit pada jiwa seseorang dapat bertambah parah dan sang pemilik hati tidak menyadarinya sebab dirinya berpaling dari hal-hal yang menyebabkan hati sehat, dan yang namanya sakit tentu dapat sembuh selama ada pada diri mereka keinginan untuk sembuh, pribadi seperti ini dapat kita sebut “nafsullawwamah”.
Dan yang
terakhir adalah qolbun mayyit ( hati yang mati )
hati yang mati adalah hati yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan , pada diri mereka yang di andalkan adalah ego pribadi tanpa dapat menerima masukan dan nasehat orang lain ,ketika mereka melakukan kesalahan hatinya tak merasa luka , karena hati yang masih hidup tentu merasakan sayatan yang menggores hatinya , bahkan pada diri mereka cenderung untuk menghasut dalam sebuah kebathilan . mereka dapat kita sebut sebagai pribadi “Nafsu amaro bissuu’ “.
hati yang mati adalah hati yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan , pada diri mereka yang di andalkan adalah ego pribadi tanpa dapat menerima masukan dan nasehat orang lain ,ketika mereka melakukan kesalahan hatinya tak merasa luka , karena hati yang masih hidup tentu merasakan sayatan yang menggores hatinya , bahkan pada diri mereka cenderung untuk menghasut dalam sebuah kebathilan . mereka dapat kita sebut sebagai pribadi “Nafsu amaro bissuu’ “.
Terletak
pada golongan yang mana kita,,,??? Kalau golongan yang pertama maka jagalah
keistiqomahan , kalau pada golongan yang kedua maka segeralah obati sebelum
terlampau parah , dan semoga kita semua tak ada yang masuk ke golongan ketiga .
Kembali
ke masalah istiqomah , jika dilihat dari pembagian diatas maka mereka yang
istiqomah adalah para pemilik qolbun salim , dan dimana posisi qolbun marid dan
qolbun mayit tak perlu kita uraikan pun kita sudah paham dimana posisi mereka .
Kita
sekarang hidup di zaman yang serba canggih , dahsyat sekali godaan yang menerpa
kita , di sini sangat dituntut keistiqomahan kita dalam menjaganya , zaman sekarang
HP maupun internet bukan barang asing lagi bagi kita , setiap orang dapat
berhalo-halo maupun berchating ria dengan siapapun dan kapanpun kita mau ,
apalagi dua fasilitas ini sangat memungkinkan dilakukan tanpa ada orang lain
tau , dengan berdalih ada kepentingan ini dan itu Iapun berhalo ria dengan
sembarang orang tak peduli mukhrim atau tidak , kalau urusan kepentingan sih sah-sah
saja tetapi kadang “bumbu-bumbunya” itu
yang membuat rusak , pertama memang bicara kepentingan eh lama-lama merambat ke
bercanda trus minta ini minta itu ” astaghfirullah , dimana harga diri itu
,,,??? , maka kalo kita memang memiliki kepentingan dengan ajnabi cukup
kita bicara sebatas yang kita perlukan , ingat kadang harga diri seseorang itu
bisa jatuh karena terlalu “murahnya” ia berbicara dengan lawan jenis yang bukan
mukhrim , usahakan kita tidak melakukan hal-hal ini , kalaupun memang pernah, mari segera
sadar dan berusahalah untuk tidak mengulangi , kalaupun posisi kita adalah yang di
ajak bicara maka jawablah seperlunya dan tentu tetap menjaga sikap dan perasaan , agar tak di
anggap sombong dan angkuh .
Suatu waktu
bisa jadi kita pernah memiliki komitmen untuk tidak akan melakukan ini dan itu dalam
lingkup kebatilan , tetapi seiring berjalanya waktu kita merasa lupa atau
bahkan sengaja melupakan komitmen yang pernah kita miliki itu , disinilah
komitmen kita kembali di pertanyakan , kalau kita memiliki sebuah azzam untuk
selalu lurus di jalan-Nya tanpa ingin membelot maka ketika kita merasa sedikit
melenceng segeralah kembali dan lekaslah sadar sebelum terlampau jauh melenceng
.
Wallahu a’lam .
Wallahu a’lam .
Langganan:
Komentar (Atom)






