Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Istiqomah




Istiqomah ,,,???
Apaan sih ,,,???
Belinya di mana ,,,???
Harganya berapaan ,,,???
Terus cara pemakaiannya bagaimana ,,,???
upzz,,,  ane yakin gak ada yang tanya beginian,
(lho,,,,???)
Iyalah ,  yg baca blog ini  kan orang-orang cerdas ,
( terus kalo cerdas kenapa mesti baca ini lagi ,,,???)
Itulah yang dinamakan saling mengingatkan , kita refleksikan firmanNya dalam surat Al-Asr ,
di dalam surat itu Allah berfirman bahwa semua manusia itu merugi kecuali , orang-orang beriman , yang beramal sholeh dan yang “saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran” , ingat ya di situ ada kata “saling” , dalam artian ada hubungan timbal balik .
                Istiqomah bisa kita artikan teguh hati , atau konsisten , sikap ini sangat kita butuhkan dalam keseharian kita, tentunya istiqomah dalam kebaikan , dan kalo berbicara masalah ini tentulah menyangkut persoalan hati , karena istiqomah atau tidaknya kita dalam keseharian itu tergantung hati kita masing-masing .
Kita tahu bahwa hati itu memiliki tingkatan , disana ada qolbun salim ( hati yang sehat ) qolbun marid ( hati yang sakit ) dan qolbun mayyit ( hati yang mati ) .
                Yang pertama adalah qolbun salim ( hati yang sehat )
hati yang sehat adalah hati yang apabila di tawarkan kepadanya suatu kebatilan dan berbagai macam kemudhorotan dengan serta merta dan penuh kesadaran dia akan menolak , menghindarinya dan diapun akan membenci perbuatan-perbuatan tersebut , bahkan tidak terdetik sedikitpun pada hatinya kecondongan pada hal-hal itu , pribadi-pribadi yang memiliki sifat ini dapat kita sebut mereka sebagai “nafsul muthmainnah”.
                Selanjutnya adalah qolbun marid ( hati yang sakit )
hati yang sakit adalah hati yang lebih condong pada keburukan yang di tawarkan kepadanya , kecondonganya pada keburukan lebih banyak jika di bandingkan kecondonganya pada hal-hal yang bersifat baik , sebenarnya dia tahu bahwa yang dia lakukan itu salah tetapi kecondonganya untuk melakukan kesalahan itu lebih besar dari pada kecondonganya untuk menghindari hal-hal tersebut , terkadang penyakit pada jiwa seseorang dapat bertambah parah dan sang pemilik hati tidak menyadarinya  sebab dirinya berpaling dari hal-hal yang menyebabkan hati sehat,  dan yang namanya sakit tentu dapat sembuh selama ada pada diri mereka keinginan untuk sembuh, pribadi seperti ini dapat kita sebut “nafsullawwamah”.
                Dan yang terakhir adalah qolbun mayyit ( hati yang mati )
hati yang mati adalah hati yang tidak bisa membedakan  antara kebaikan dan keburukan , pada diri mereka yang di andalkan adalah ego pribadi tanpa dapat menerima masukan dan nasehat orang lain ,ketika mereka melakukan kesalahan hatinya tak merasa luka , karena hati yang masih hidup tentu merasakan sayatan yang menggores hatinya , bahkan pada diri mereka cenderung untuk menghasut dalam sebuah kebathilan . mereka dapat kita sebut sebagai pribadi “Nafsu amaro bissuu’ “.
                Terletak pada golongan yang mana kita,,,??? Kalau golongan yang pertama maka jagalah keistiqomahan , kalau pada golongan yang kedua maka segeralah obati sebelum terlampau parah , dan semoga kita semua tak ada yang masuk ke golongan ketiga .
                Kembali ke masalah istiqomah , jika dilihat dari pembagian diatas maka mereka yang istiqomah adalah para pemilik qolbun salim , dan dimana posisi qolbun marid dan qolbun mayit tak perlu kita uraikan pun kita sudah paham dimana posisi mereka .
                Kita sekarang hidup di zaman yang serba canggih , dahsyat sekali godaan yang menerpa kita , di sini sangat dituntut keistiqomahan kita dalam menjaganya , zaman sekarang HP maupun internet bukan barang asing lagi bagi kita , setiap orang dapat berhalo-halo maupun berchating ria dengan siapapun dan kapanpun kita mau , apalagi dua fasilitas ini sangat memungkinkan dilakukan tanpa ada orang lain tau , dengan berdalih ada kepentingan ini dan itu Iapun berhalo ria dengan sembarang orang tak peduli mukhrim atau tidak , kalau urusan kepentingan sih sah-sah saja tetapi kadang  “bumbu-bumbunya” itu yang membuat rusak , pertama memang bicara kepentingan eh lama-lama merambat ke bercanda trus minta ini minta itu ” astaghfirullah , dimana harga diri itu ,,,??? , maka kalo kita memang memiliki kepentingan dengan ajnabi cukup kita bicara sebatas yang kita perlukan , ingat kadang harga diri seseorang itu bisa jatuh karena terlalu “murahnya” ia berbicara dengan lawan jenis yang bukan mukhrim , usahakan kita tidak melakukan hal-hal ini , kalaupun memang pernah, mari segera sadar dan berusahalah untuk tidak mengulangi , kalaupun posisi kita adalah yang di ajak bicara maka jawablah seperlunya dan tentu tetap menjaga sikap dan perasaan , agar tak di anggap sombong dan angkuh .
                Suatu waktu bisa jadi kita pernah memiliki komitmen untuk tidak akan melakukan ini dan itu dalam lingkup kebatilan , tetapi seiring berjalanya waktu kita merasa lupa atau bahkan sengaja melupakan komitmen yang pernah kita miliki itu , disinilah komitmen kita kembali di pertanyakan , kalau kita memiliki sebuah azzam untuk selalu lurus di jalan-Nya tanpa ingin membelot maka ketika kita merasa sedikit melenceng segeralah kembali dan lekaslah sadar sebelum terlampau jauh melenceng .  
Wallahu a’lam .

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar